Semester I
“Aku tertidur dan mimpi bahwa hidup ini adalah kesenangan. Aku terbangun dan melihat bahwa hidup ini adalah pengabdian. Aku bertindak, dan lihatlah, pengabdian memang menyenangkan.”
Rabindranath Tagore
Dor..dor..dor… !!!
“Nada…!! Bangun nak sudah siang, ibu mau ke warung beli gula sebentar, tolong gorengan ibu dijaga ya, jangan sampai gosong”
“iya bu…, ini juga sudah bangun ko” jawabku sambil menguap dan meregangkan badanku yang terasa pegal-pegal.
Kenapa mataku susah sekali dibuka sih, aku ingat semalam aku tidur agak larut. karena teman-teman mengadakan doa bersama di rumahku, karena hari ini adalah pengumuman tes masuk Akademi Keperawatan Cendana. Aku beruntung, aku memiliki teman-teman yang sangat baik dan sayang padaku. Walaupun ide untuk berdoa bersama datang dari Taruna, cowok ganteng anak kepala desa yang sudah empat bulan berusaha aku dekati.
Namaku Nisrina Nada Syifa yang berarti embun penyembuh yang berasal dari bunga mawar putih, aku tak tahu mengapa ibu memberiku nama itu, tetapi ibu pernah cerita bahwa bapak dan ibu membuat satu perjanjian ketika ibu mengandungku dulu..
“mas nama anak kita nanti siapa ya? aku ingin anak kita diberi nama yang mengandung arti baik, karna nama itu adalah doa dan akan dibawa sampai mati” ibuku bertanya pada bapak
“mmm…kalau laki-laki akan kuberi nama Wisnu mahadewa Kencana, kalau perempuan namanya Kirana Dewi Maharani” kata ayahku
“Ko?!seperti nama wayang begitu?”
“aku ini orang jawa bu, dan nama tersebut mempunyai arti yang baik disana”
“Tapi nggak harus segitunya kan Pak?”
Begitulah, bapak dan ibu sempat ribut gara-gara memikirkan nama buatku, sampai akhirnya ibu mendapatkan ide yang dengan berat hati bapak setujui karena takut ibu ngambek dan mogok masak buat bapak.
“Jika anak yang lahir laki-laki, maka bapak yang memberinya nama. Tapi jika anak yang lahir perempuan, maka ibu lah yang memberi nama.” Demikian kata ibuku.
Setelah usia kandungan ibuku cukup besar, maka dilakukan USG (Ultra Sono Grafi), selain untuk melihat perkembangan janin juga untuk melihat jenis kelamin bayi yang dikandung. Dan, ibuku yang menang. Aku lahir sebagai anak kandung pertama bapak dan ibu 17 tahun yang lalu dengan jenis kelamin perempuan. Dengan gembira ibu mulai menyiapkan beberapa nama untukku. Ibu dengan giat mencari referensi nama-nama yang mengandung arti baik untukku. Dan entah mengapa diberikanlah namaku seperti saat ini. Mungkin karena dulu ibu bercita-cita menjadi dokter, makanya ibu memberiku nama yang mengandung arti penyembuh, tapi karna kurangnya biaya maka sekolah ibu berhenti sampai bangku SMA.
“Nada sudah diangkat gorengan ibu?” ibu datang membuyarkan lamunanku.
“ya ampun!”…
Aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang perawat, walau sejak satu minggu setelah aku lulus dari SMA, ibu selalu memberikan aku referensi tentang sekolah-sekolah perawat terbaik dikota ini.
“AKPER cendana itu bagus Nada, dia punya Rumah Sakit sendiri, RS. Cendana. Sehingga lulusannya lebih terampil, karena tidak kekurangan lahan praktek, Rumah Sakit Cendana juga Rumah Sakit yang besar dan salah satu yang terbaik di kota ini”
“Terus kenapa Bu?!” tanyaku pura-pura bego,
“Memangnya kamu tidak mau jadi Perawat, perawat itu cantik-cantik, anggun, tutur katanya baik, cekatan, dan tidak sulit untuk mencari kerja.” Ibu mulai merayuku
“Nanti aku pertimbangkan ya bu”
Aku adalah gadis yang pendiam, sejak kecil bapak dan ibu sangat ketat menjagaku, maklumlah ibuku perlu waktu enam tahun untuk dapat memiliki aku. Ibu sempat putus asa, walaupun Bapak selalu meyakinkan ibu, bahwa anak itu anugerah dari yang kuasa. Kalau kita meminta dengan sungguh-sunguh, pasti akan dikabulkan. Karena menurut bapak tidak ada doa baik yang tidak dikabulkan, apapun yang kita inginkan, jika kita berusaha dan berdoa, pasti akan terkabul.
Tetapi ibu tidak sabar, setelah tahun ketiga pernikahan,bapak dan ibu mengangkat seorang anak laki-laki yang diberi nama Daru Putra Dewa. Sangat Bapak sekali, kata ibu.
Kak Daru berbeda usia 3 tahun dariku. Dia kakak yang ceria, pandai dan sangat baik hati. Pacarnya banyak, karena kak daru memang berwajah tampan. Walaupun ia bukan kakak kandung ku tapi kami sangat akrab seperti saudara sekandung. Dua tahun setelah kelahiranku ibuku mengandung lagi, jenis kelaminnya juga perempuan. Tapi karena bapak memaksa akhirnya ibu mengizinkan bapak memberinya nama Kirana Dewi Maharani. Nama yang sudah bapak siapkan sejak ibu mengandungku.
Adikku seorang gadis yang cantik, lincah dan ceriwis, sesuai namanya yang berarti bidadari matahari, keberadaannya didalam keluarga seakan memberi warna baru bagi kami sekeluarga, ia begitu manja, menggemaskan dan selalu membawa kegembiraan dimanapun ia berada
Keinginan ibuku terkabul, aku yang sejak kecil bercita-cita menjadi seorang pengacara, agar dapat memperjuangkan hak orang lain, membela yang benar dan menegakkan keadilan. Kandas.
Saat ujian UMPTN tiba aku terserang demam tinggi, mungkin karena stress, mungkin juga kelelahan karena sering belajar hingga larut malam, tentu saja walaupun ibu dengan berat hati dan perasaan khawatir yang amat sangat mengizinkan aku untuk tetap mengikuti ujian, toh aku tetap tak mampu mengerjakan semua soal-soalnya dengan baik. Pada menit ke 20, aku tak sadarkan diri. Sungguh tragis dan kenyataan pahit yang memalukan.
Itulah sebabnya tiga hari kemudian aku coba untuk ikut ujian tes masuk di Akademi Keperawatan Cendana.
—
Pukul sepuluh pagi aku berangkat diantar mang jumin supir bapak, aku mau ke kampus Akper Cendana untuk melihat pengumuman.
Dua jam kemudian aku tiba disana, kulihat banyak sekali orang-orang berkerumun. Tampaknya pengumuman kelulusan sudah tertempel di dinding mading. Dengan susah payah aku sampai juga kebarisan terdepan. Mungkin karena aku tak percaya diri, aku mengurut nama dari belakang, karena kurasa dari 700-an peserta yang ikut tes rasanya tak mungkin aku berada diurutan 10 besar dari 60 peserta yang akan dinyatakan lulus. Aku tak menemukan namaku, mataku mulai terasa panas menahan air mata kekecewaan. Bagaimana kalau aku tidak lulus, apa aku tidak akan kuliah hingga tahun depan? Apa yang akan aku lakukan. pikiranku mulai membayangkan yang macam-macam. Disela-sela suara keributan itu, sayup-sayup aku mendengan suara tangisan kekecewaan lebih mendominasi dibanding suara kegembiraan, karena memang akan ada 600-an lebih peserta yang tidak lulus. Dengan sedikit putus asa kucoba mengurut nama-nama yang terpampang didinding.
Indah.., sofia.., wulan.., lidya.., aryo.., maria.., bayu.., Roy.., nisrina.., Robi.., Tuh kan. Namaku tidak ada. Rasanya lemas sekujur tubuhku, aku sudah membaca urutan 10 terbesar dari bawah. Aku hampir pergi dan sudah membalik tubuhku ketika mulutku secara tidak sadar mengucapkan, nis..ri..na. seperti kenal? Loh itukan namaku? Sepecat kilat kuputar tubuhku kembali, aku baca dengan hati-hati, NISRINA NADA SYIFA, iya itu namaku. Ya ampun masa aku lupa nama lengkapku sendiri, dasar bodoh pikirku. Ternyata aku berada diurutan kedua, tak percaya rasanya aku berada diurutan kedua dari 700 orang peserta. 700 ratus orang…ya Tuhan, terima kasih. Batinku.
Tubuhku masih lemas dan masih tak percaya, aku sedang berjalan ke arah Mang Jumin memarkirkan mobil, ketika kulihat seorang cowok berjalan disampingku. Dengan antusias aku menyapanya
“hai,..kamu keterima nggak?” tanyaku
“nggak” jawabnya pendek,
aku terkejut dan langsung merubah ekspresi wajah gembiraku menjadi wajah simpati
“Oh..trus kamu mau kemana setelah ini?” tanyaku
“aku akan ke bandara, aku harus pulang ke sulawesi. Aku sudah lima minggu disini, mengikuti berbagai tes untuk melanjutkan kuliah, ternyata semuanya gagal. Orang tuaku pasti sangat kecewa” jawabnya lemah.
Tampak sekali wajah lelah dan kekecewaan yang dalam diwajahnya. Aku merasa iba dan tidak menyangka kalau dia berasal dari tempat yang jauh hanya untuk mengejar cita-citanya. Dan gagal.
“namaku nada, aku juga tidak lulus, tapi aku tetap yakin. Tuhan tidak pernah salah dalam memilihkan jalan hidup kita. Kamu juga harus tetap semangat dan yakin ya. pasti Tuhan sudah punya rencana yang baik juga buat kamu”
Dia menatapku, lalu tersenyum
“namaku Heri” jawabnya,
“makasih ya, aku pasti akan tetap berusaha dan semangat. Sekali lagi makasih ya nada”
Aku pun tersenyum, entah darimana datangnya ide untuk membohongi dia, tapi toh aku tidak akan ketemu dia lagi, dan yang terpenting dia sudah tersenyum dan punya semangat lagi. Pikirku.
“Nada, kamu sudah pulang?” ibu tampak semangat menyambut kedatanganku dihalaman, sepertinya dia sdah tidak sabar menunggu kabar dariku.
“ya udah Bu, kan keliatan Nada udah ada dirumah” kataku, ibu tampak terkejut mendengar jawabanku yang bernada kurang ajar. Tetapi kemudian dia tersenyum setelah melihat wajahku dan yakin bahwa aku hanya menggodanya.
“Gimana Nada? Lulus?”, tanya ibu kembali
Hhh… kuhela nafas panjang. Ibu tampak tegang.
“gimana ya bu”, jawabanku yang pendek membuat ibu terhenyak, tampak sedikit wajah kecewa dan juga penasaran diwajah ibu mendengar jawabanku. Dan wajah lugu ibu membuat aku tak tega untuk melanjutkan candaanku.
“sepertinya, ibu harus berbesar hati, karena sebentar lagi ibu akan berpisah dari anak kesayangan ibu yang cantik ini untuk waktu yang cukup lama” lanjutku, sambil tersenyum pada ibu
“Maksud kamu, kamu lulus?” tanya ibu kembali meyakinkan ucapanku. Aku hanya mengangguk. Dan seperti biasa ibu kemudian memelukku erat hingga aku sesak nafas dibuatnya.
“Alhamdulillah Ya Allah, syukurlah Nada, Ibu senang sekali. Nanti ibu akan segera menyipakan semua yang kamu butuhkan”, aku hanya mengangguk. Aku terharu melihat kebahagian Ibu,mudah-mudahan aku bisa membahagiakan ibu dan mendapatkan kebahagiaanku juga disana kelak, pikirku.
—
“Nada, ibu sudah siapkan 2 buah selimut, pakaian tidur baru, sprei dan sarung bantalnya, masing-masing dua, alat cuci, pakaian lainnya sudah kamu siapkan nak?”
“Sudah bu, aku masukkan dalam tas yang hijau tadi”
“disana kamu harus jaga kesehatan ya, udaranya sangat dingin, pakaian hangat jangan hanya bawa satu. Nanti jika ibu sudah boleh berkunjung,ibu akan belikan sweater baru ya. semua pakaian dan barang-barangmu sudah diberi tanda namamu, Nada?”
“Iya bu, nada sudah minta tolong bibi kemarin. Semua sudah siap. Ibu jangan khawatir ya, nada sudah siap ko”
Ibu menatapku dalam, ada butiran air mata disana, aku jadi merasa tidak enak, apa aku salah bicara ya?, tiba-tiba ibu memelukku, erat sekali, aku merasa hangat, kudengar suaranya bergetar.
“Nada, ibu harap kamu bisa menjaga diri, kamu adalah belahan jiwa ibu, apapun yang terjadi, kamu harus sabar dan tegar. Menjadi perawat itu berat Nada. butuh pengorbanan, tapi Ibu selalu yakin bahwa kamu akan menjadi perawat yang hebat kelak”
“Ibu, nada akan baik-baik saja, nanti Nada akan rajin kirim kabar sama ibu, jangan khawatir lagi ya, kan ibu juga yang bilang disana semuanya serba profesional. Jadi tidak mungkin akan terjadi apa-apa dengan Nada. ibu tenang aja ya” jawabku. Perlahan ibu lepaskan pelukannya, Ia tersenyum sekali lagi padaku.
Ibu memang wanita yang paling lembut yang pernah kujumpai. Sementara bapak orang yang sibuk dan terkesan masa bodoh, tapi sebenarnya bapak sangat mencintai ibu dan juga sangat memperhatikan kami, anak-anaknya.
Akhirnya tiba juga waktunya, satu jam lagi aku akan berangkat ke Asrama AKPER Cendana,aku sudah bersiap-siap sejak 15 menit yang lalu, aku merasa gelisah, aneh rasanya akan meninggalkan rumah yang bertahun-tahun aku tempati. Tempat tidurku yang empuk, kamarku yang wangi, boneka-boneka dan perpustakaan kecil milikku pribadi. Hhh aku hanya bisa menghela nafas panjang.
Ting tung… ting tung…
“Nada… ada tamu” ibu berteriak dari dalam kamarnya
Ting tung…
“Nada! bukakan pintunya, ibu lagi tanggung”
“Iya, iya…bu” aku berlari menuju pintu
“Taruna?!..”
“Hai Nada, aku ganggu ya? kamu belum akan pergi kan?”
“mm..belum sih, masih sejam lagi, ada apa?”
“aku ingin ngomong sesuatu sama kamu”, taruna tampak gugup dan sedikit pucat.
Deg, jangan-jangan dia mau nyatain lagi, pikirku ge-er, aduh… mana waktunya ga tepat, aku udah mau berangkat.
“Penting nggak?” tanyaku
“ya..penting sih, tapi nggak terlalu penting juga mungkin”
“lama nggak?” tanyaku lagi
“Emang kenapa? Ga bisa ya, aku nggak akan lama ko!” Taruna sedikit mendesakku
“siapa Nada, oh..Taruna, mau ketemu sama Nada ya? atau sama ibu”, tiba tiba ibu muncul dari belakang.
“maaf bu, saya mau ketemu sama Nada” jawab Taruna sedikit kikuk
“ya sudah kalau begitu ibu tinggal. Oya nada, barang-barangmu sudah masuk semua kedalam mobil?”
“udah, baru aja selesai”, jawabku.
Ibu lalu pergi meninggalkan kami berdua, sebenarnya aku suka taruna datang, tetapi aku tak pernah suka dengan suasana perpisahan, dan aku tahu betapapun aku coba untuk terima, aku akan sedih berpisah dengan teman-temanku yang sangat baik.
“masuk taruna, silahkan duduk” kataku mempersilahkan dia masuk ke ruang tamu
“trimakasih.., tapi diteras aja ya” pintanya ragu
Aku menggangguk dan mempersilahkan dia duduk.
“kuambilkan minum ya”
“Jangan.. nanti jadi lama, aku sebentar ko”
Hening…
“Nada, aku hanya ingin bertanya sesuatu sama kamu, boleh kan?” taruna bertanya penuh harap
“iya, ada apa sih! Kamu ada masalah ya? kok aneh gitu?” tanyaku mencairkan suasana
Taruna tersenyum, dia mulai agak rileks.
“Nada, kalau di asrama itu, boleh ada yang datang nggak?”
“ya… mungkin boleh, tapi aku belum tahu juga peraturannya, memangnya kamu mau datang kesana?” tanyakku menebak
Tidak disangka taruna mengangguk,dia terlihat agak malu.
“oh.. kalau begitu, nanti kalau aku sudah tahu peraturannya, aku akan segera hubungi kamu deh” kataku menenangkan taruna
Wajah taruna tampak lega, dia mengangguk lagi.
“ya sudah kalau begitu nada, aku akan tunggu kabar dari kamu, oya ini ada bingkisan, kenang-kenangan dari teman-teman. Mereka titip salam dan meminta maaf karena nggak bisa datang langsung kesini”
“wah..aku jadi terharu. Trimakasih ya, tapi kenapa harus kasih kenag-kenangan segala sih, aku kan bukannya akan pergi. Paling seminggu atau sebulan sekali aku bisa pulang”, jawabku.
“gapapa, biar kamu ga lupain kita-kita disini”, katanya lagi sambil menyerahkan bingkisan berwarna hijau toska itu padaku. Warna yang aku suka.
“nada.. ayo siap-siap, bapak sudah menunggu di mobil” ibu datang dan tersenyum pada taruna
“maaf ya taruna, nada harus berangkat. Takutnya terburu-buru nanti”, ibu meminta maaf pada taruna
“iya bu, saya sudah selesai ko” jawab taruna, dia menatap padaku, tatapan..apa ya? aku tidak dapat menebaknya.
“nada, aku pulang dulu. Selamat jalan ya” taruna menyodorkan tangannya mengajakku bersalaman.
“oke, thanks ya. salam buat temen-temen, bilangin aku pamit” jawabku sambil menjabat tangannya. Ada yang perasaan aneh saat aku menjabat tangannya. Sepertinya dia engan melepaskan.
Taruna pergi, dia tidak membalikkan tubuhnya hingga hilang dari pandanganku. Ah… mungkin aku terlalu ke ge-er an, pikirku.
Like this:
Be the first to like this page.
Nov 18, 2009 @ 05:33:18
Well done masya Allah..
great story for great nurse